.:: CIUM TANGAN ALA RASUL ::.

Published October 21, 2011 by umygeminy

Mencium tangan seseorang adalah tanda hormat kepada yg dicium tangannya. Ini bisa kita lihat pada kebiasaan para santri jika bertemu dg guru atau kyainya. Jadi jangan heran jika Anda melihat seorang pejabat yg perlente begitu bertemu dg seorang kyai bukan hanya menyalaminya tapi sekaligus mencium tangannya. Itu karena adanya kedekatan hubungan antara keduanya, di mana yg dicium tangannya biasanya adalah guru yg sangat dihormati. Kita mencium tangan seseorang karena sangat menghormatinya. Saya sendiri selalu berupaya utk mencium tangan ayah, almarhum ibu saya (dan salah seorang tante saya) karena rasa hormat dan cinta kepada mereka ketika bertemu. Meski demikian tak satu pun rasanya ada guru, kyai, atau siapa selain mereka pun yg saya perlakukan demikian hormat.

Siapakah orang yg paling patut utk kita cium tangannya selain orang tua kita sendiri? Rasanya kita sebagai umat Islam dengan senang hati mencium tangan Nabi Muhammad seandainya beliau ada bersama kita. Rasulullah adalah orang yg paling kita cintai dan hormati sebagai umat Islam. Beliau menempati urutan tertinggi utk kita hormati dan cium tangannya jika kita bisa bertemu. Bahkan ada riwayat yg menceritakan dua orang Yahudi yg mencium tangan dan kaki Rasulullah karena kekagumannya atas kerasulan Muhammad SAW.

Bayangkan seandainya justru Rasulullah yang mencium tangan seseorang…! Mungkinkah Rasulullah mencium tangan seseorang karena menghormati orang tersebut…?! Ternyata mungkin. Rasulullah pernah mencium tangan seseorang karena penghargaan beliau kepada orang tersebut! Apakah orang tersebut orang yang begitu saleh dalam ibadah sholat, puasa, atau sedekahnya? Ternyata bukan.

Tahukah Anda siapa orang yg mendapatkan penghargaan begitu tinggi dari Rasulullah sehinggga bukan Rasulullah yg dicium tangannya tapi justru sebaliknya Rasulullah yg mencium tangan orang itu dan menyatakan bahwa tangan tersebut TIDAK AKAN DISENTUH API NERAKA…?! Ya, Rasulullah pernah mencium tangan tiga orang sebagai tanda penghargaan yg tinggi atas apa yg telah dilakukan oleh tiga orang tersebut.

Yang pertama adalah tangan sahabat Sa’ad bin Mu’adz.

Ketika berjumpa dengan Sa’ad, Rasulullah melihat betapa tangannya kasar, kering, dan kotor. Ketika ditanya Sa’ad menjawab bahwa tangannnya menjadi demikian karena bekerja mengolah tanah dan mengangkut air sepanjang hari. Mendengar itu Rasulullah serta merta mencium tangan Sa’ad dan menyatakan bahwa ‘tangan ini dicintai Allah dan Rasulnya dan tidak akan disentuh api neraka’.

Orang kedua yg mendapat kehormatan dicium tangannya oleh Rasulullah adalah Mu’adz bin Jabal. Ketika bersalaman Rasulullah merasakan tangan Mu’adz kasar dan tebal. Ketika ditanyakan Mu’adz menjawab bahwa tangannya kapalan karena dipakai kerja keras. Kembali Rasulullah mencium tangan yg kasar, keras dan kapalan karena bekas kerja keras ini dan menyatakan hal yg sama seperti pada Sa’ad. ‘Inilah tangan yang dicintai Allah dan Rasulnya dan tidak akan disentuh api neraka.’ Tangan yg dipakai oleh pemiliknya utk bekerja keras mencari nafkah.

Tangan ketiga adalah tangan Fatimah Az-Zahra yg telah bekerja keras menggiling gandum di rumahnya utk menyiapkan makanan bagi anak-anaknya yg menangis. Rasulullah sangat menghargai orang-orang yg bekerja keras utk mencari nafkah dan menghidupi keluarganya. Rasulullah mencium tangan mereka sebagai penghargaan akan ibadah mahdhah mereka dan bukan karena kesalehan mereka dalam ibadah ritual seperti sholat malam, puasa, sedekah, dan berhaji.

Mengapa demikian…?! Karena Islam sangat menghargai kerja keras dari pemeluknya, bukan sekedar bekerja. Sifat malas adalah sifat yg tercela dalam Islam.

Sayang sekali bahwa etos kerja keras justru belum nampak pada umat Islam padahal itu sangat dicintai oleh Allah dan Rasulnya dan mendapatkan jaminan utk tidak disentuh oleh api neraka. Dalam setiap khotbah dari para da’I yang kita dengar kebanyakan hanyalah anjuran untuk meningkatkan ibadah-ibadah seperti sholat, puasa, dzikir, sedekah, dan semacamnya tapi sangat jarang kita dengar anjuran untuk bekerja keras (bukan sekedar bekerja) untuk mencari nafkah bagi keluarga. Padahal ibadah itu mendapatkan penghargaan yang sangat tinggi dari Rasulullah sehingga Rasulullah mencium tangan orang yang tangannya sampai kasar karena bekerja keras untuk menghidupi keluarganya. Bahkan Rasulullah mengumpamakan seorang beriman itu seperti lebah yang bekerja keras setiap saat dalam bentuk koloni berjamaah dan memberikan banyak manfaat bagi manusia.

Ada sebuah buku yang sangat bagus tentang penghargaan pada kerja keras ini dan saya anjurkan Anda untuk membeli dan membacanya. Judulnya adalah “Tangan-tangan yang Dicium Rasul : Nasihat Islami tentang Bekerja Keras” tulisan Syahyuti dan diterbitkan oleh Pustaka Hira. Buku ini memuat bukti-bukti ilmiah, historis, dan teologis tentang bagaimana Islam mencintai kerja keras.

Salam

Satria Dharma

http://satriadharma.com/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: