JIKA AKU LEPAS KERUDUNGKU

Sekali waktu entah angin dari mana hatiku secara spontan suka bertanya, “Bagaimana jika aku melepas kembali kerudungku??” Hmmm…seketika rasanya ada bisikan-bisikan lembut yang mengatakan “LEPASLAH….ayo..kamu tidak nyaman dengan itu..dan tidak pantas untukmu..” Hehe… mungkin itulah yang dinamakan “min syarril waswaasil khonnas, dari kejahatan (bisikan) syaitan yang tersembunyi.” (An-naas : 4)”.

Tapi kala itu juga aku langsung tampakkan wajahku di depan cermin seraya membayangkan, jika ku lepaskan kerudungku kemudian ku tanggalkan. lalu ku pakai kembali baju-baju yang serba-serbi ketat, menampakkan aurat yang beberapa waktu lalu aku tutupi rapat. Seketika itu juga ada beribu suara yang bergemuruh secara tegas mengatakan “JANGAN! JANGAN LEPASKAN!!” Hmm..wallohu’alam suporter dari mana itu, mungkin hati kecilku yang berkata atau suporter dari Alloh.. hehe.. Tapi.. alhamdulillah.. yang terbayang hanya masa lalu yang buatku sekarang adalah hal yang buruk. Malah miris jika harus membayangkan lepas kembali kerudung ini. Memang penampilanku dulu masih dalam tahap wajar, maksudnya tidak terlalu seronok. Tapi setelah sedikit aku mendalami syari’at islam bagiku apa yang ku lakukan dulu itu adalah suatu dosa besar yang baru hanya bisa ku tebus dengan taubat kecil-kecilan. Tapi dalam ketakutan aku tetap berharap dan yakin ampunan Alloh itu besar dan luas.

Jika ingat cerita orang-orang yang menanggalkan kerudungnya. Begitu macam-macam yang ku dengar. Ada yang rela melepas kerudungnya demi popularitas, uang, dan ada juga yang gara-gara belum dapet jodoh tanggalkan pakaian syar’inya. Astaghfirulloh, secara tidak langsung mereka telah mengangap kerudung itu pembawa sial. wa’iyyadzubillahi mindzalik.. Dan sedikitpun mereka tidak memikirkan bagaimana kecewanya Alloh, murkanya Alloh, sedihnya Alloh melihat hamba yang dicintainya malah menghianatinya. mengganti kesucian yang telah Alloh gelarkan padanya. Padahal sedikitpun juga Alloh tidak membutuhkan mereka, Alloh tidak memerlukan makluk, Alloh hanya sayang pada kita, Alloh mengharapkan kita selamat. Tapi, mungkin percuma..mereka sudah tidak pedulikan hal itu. hatinya telah gelap dan perlahan mengeras. digelapkan oleh dunia fana, dan digelapkan oleh kesenangan fana. Huft..ruginya kita jika kita lakukan hal itu.

Dan tanpa mereka sadari juga.. hal itu berdampak negatif bagi para wanita yang dalam hati kecilnya ingin berkerudung. Aku pun merasakan hal itu ketika sebelum berkerudung. Ada sugesti-sugesti negatif yang menghadang kala itu. contohnya, aku takut ketika aku berkomitmen untuk berkerudung suatu saat aku melepasnya, aku juga takut dengan komentar orang-orang setelah aku berkerudung nanti, aku pun takut banyak larangan ini itu karena bagiku saat itu sosok berkerudung itu penuh aturan, penuh ikatan.

Tapi…setelah mencoba dan dengan sekuat hati ku jemput hidayah Alloh, Alhamdulillah.. kurasakan jilbab itu indah, walau sedikit gerah di awal.. hehe… hingga dari hari demi hari, dari proses demi proses ku lalui dengan kerudungku. Hmm… memang apa yang dikatakan orang-orang itu benar, tentang susahnya istiqomah, susahnya menahan gerah. wah.. pokoknya duri tajam, batu kerikil terasa menghalangi jalanku, cabe gendot sekilo terasa ku makan habis saking gerahnya.. Hehehe… (refresh sodara-sodari..:D )

Tapi ya.. memang begitulah jalan menuju Alloh.. nanjaknya melebihi tanjakan nagrek (hihihi), terjalnya melebihi jalan menuju hutan belantara.. wahhh.. serem juga ya.. tapi di situlah tantangannya. Tantangan jihad fii sabilillah. hanya kesabaran yang akan menurunkan kekuatan Alloh untuk kita di saat melewati ujian demi ujian. Dan Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya (Al-Baqarah : 286). Alloh memberikan ujian itu berarti sebenarnya kita telah memiliki kesanggupan utk menghadapi dan menyelesaikannya karena Alloh pun telah mengukur kadar kesanggupan kita.

Jadi ingat, ada yang bertanya padaku ketika beberapa bulan berkerudung,

“bagaimana kesannya setelah memakai kerudung? apakah merasa kegerahan?”
Jawabku, “alhamdulillah semakin nyaman..”
Dan komentarnya, “Syukurlah.. memang.. kalau kata orang gerah itu berasal dari hati kita yang masih panas”

nah, seperti itulah katanya.. dan mungkin panas di situ berarti panas terhadap dunia, panas terhadap penilaian orang.. dan banyak lagi panas-panas yang lainya.. hehe

Kembali ke topik, sepertinya sangat disayangkan jika kita melepas kembali kerudung kita. Karena kerudung yang kita pakai itu merupakan komitmen kita pada Sang Pemberi Hidayah yaitu Alloh SWT. Kerudung itu Seperti halnya cincin tunangan yang merupakan komitmen kita dengan calon pendamping kita. jika kita melepaskannya (melepaskan untuk selamanya) bagaimana sakitnya calon kita?? atau posisinya dibalikan bagaimana jika calon kita yang melepas cincinnya untuk selamanya? bagaimana perasaan kita? atau apa yg akan kita lakukan? bunuh dirikah? atau lembaru? hehe

bersambung ah.. mau Kerja…hehe
Met beraktivitas semuanyaaaaa….
Assalamualaikum warohmatullah wabarokatu…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: